INCEPTION

17 Juli 2010 Tinggalkan komentar

Pemain : Leonardo DiCaprio, Joseph Gordon-Levitt, Ellen Page, Tom Hardy, Ken Watanabe, Dileep Rao, Cillian Murphy, Tom Berenger, Marion Cotillard, Pete Postlethwaite, Michael Caine, Lukas Haas, Tai-Li Lee, Claire Geare, Taylor Geare, Johnathan Geare, Tohoru Masamun, Yuji Okumoto, Earl Cameron, Ryan Hayward, Miranda Nolan, Russ Fega, Tim Kelleher, Talulah Riley.
Sutradara : Christopher Nolan
Naskah : Christopher Nolan
Executive Producer : Chris Brigham, Thomas Tull
Produser : Christopher Nolan, Emma Thomas
Co-Produser : Jordan Goldberg
Penata Musik : Hans Zimmer
Tanggal Rilis : 16 Juli 2010
Genre : Drama, Mistery, Sci-Fi, Thriller
Tagline : Your Mind Is The Scene Of Crime
Certification : PG-13 (USA)
Durasi Film : 142 Menit
Distributors : Warner Bros. Pictures, Legendary Pictures, Syncopy

Kategori:Uncategorized

MENDADAK TWIHARD – ECLIPSE

SEKELUMIT KEHIDUPAN KECIL BALI DI FILM UNDER THE TREE

Sebuah Karya Sutradara Garin Nugroho, sangat idealis..

POSTER FILM TERFAVORIT BULAN JUNI 2010

30 Juni 2010 1 komentar

Selain Trailer Film, Situs Resmi, dan bentuk marketing lainnya, salah satu bentuk pemasaran film adalah Poster, namun selain ampuh untuk menarik minat calon penonton, Poster juga memiliki nilai seni tersendiri. Sekian banyak Hollywood memproduksi poster tiap bulannya, baik film yang akan segera beredar maupun yang masih sangat lama yang biasanya berbentuk Teaser Poster. Inilah beberapa poster yang dirilis bulan juni 2010 paling bagus menurut kami, selera boleh beda dan semoga pilihan kami berkenan.

Kategori:2010, AWARD, FILM, JUNI, POSTER

REVIEW FILM : PIXAR SHORT FILM, DAY AND NIGHT (2010)

26 Juni 2010 Tinggalkan komentar

Short Film, ya sebuah film pendek yang dibuat oleh Pixar Animation Studio. Dua hal yang tak terpisahkan, selalu ada ide segar dari Pixar sebelum dan sesudah kita melihat film feature-nya, baik nyambung maupun tidak dengan film utama. Kita mengenal film pendek ini sejak Pixar dirintis, bukan era millenium dan 90’an melainkan 80’an. Tidak semuanya sudah saya lihat, ada The Adventure Of Andre And Wally B tahun 1984, Luxo Jr. yang merupakan logo resmi Pixar dirlis tahun 1986, tahun kelahiran saya. Luxo Jr. pernah saya tonton, sangat sederhana untuk tahun 2000’an. Lalu ada Red’s Dream tahun 1987 dan Tin Toy tahun 1988, film pendek tentang makhluk salju dalam kaca berjudul Knick Knack tahun 1989. Tahun 1995 teknologi makin berkembang dan Toy Story untuk pertama kalinya dirlis sekaligus ditandai sebagai film animasi CGI pertama untuk konsumsi bioskop, Gery’s Game ambil bagian ditahun ini. film yang cerdas, kita terperangah untuk dua hal teknologi dan konsep ceritanya. Kini saat semua telah terbiasa dengan tayangan animasi CGI dan bahkan berformat 3D, bukan teknologi yang dilombakan melainkan kualitas naskah yang diprioritaskan.

“When Day, a sunny fellow, encounters Night, a stranger of distinctly darker moods, sparks fly! Day and Night are frightened and suspicious of each other at first, and quickly get off on the wrong foot. But as they discover each other’s unique qualities–and come to realize that each of them offers a different window onto the same world–the friendship helps both to gain a new perspective”-Consept

Ada versi DVD dan Blu Ray untuk edisi pertama kumpulan film pendek produksi Pixar yang dirlis tahun 2007 lalu, tidak semuanya terangkum disana bahkan banyak. Burn-E, Doug Special Mission, dan Partly Cloudy dalam tahap menunggu lampu hijau, begitu pula dengan episode ini. Perlu ada edisi kedua kumpulan film pendek Pixar selanjutnya. Kembali ke tahun 2010, ada “Day And Night” disini. Sebuah film unik berteknologi 3D mengikuti film Toy Story 3 yang juga berformat 3D, diputar sebelum Toy Story 3 dimulai. ada teknik 2D di film ini, Your Friend The Rat contohnya. Bahkan ada Stop Motion dan mode hitam putih disana, namun disini minus kedua jenis tadi. Perpaduan 2D untuk kedua tokoh Siang dan Malam dan CGI berteknologi canggih sekaligus dalam tubuh mereka berdua, 2D pertama untuk tayangan versi bioskop stereoscopic 3-D. Teddy Newton berada dikursi Sutradara, debutan namun berada diarea yang benar, Micahel Giacchino sebagai komposser, sangat menarik dan penting mengikuti ini.

“Where they not the keepers of daylight and darkness, Day and Night wolud be a couple of average joes. Day busy with sunshine and joggers, Night focused on star and drive-in movie. But when they paths cross, Day and Night find that they are more alike than different-both are fearful and jealous. but altimately proud to share the best of themselves and as they discover, better together than apart”-The Characters.

Fokus cerita berpusat pada makhluk bernama Day dan Night yang selalu mendapati dirinya berada pada kondisi yang berbeda antara siang dan malam, ketika Day dan Night berada dipantai ada cewek berbikini yang berjemur untuk si Siang, seketika itu si malam datang menghampiri dan mendapati pantai itu telah malam dengan nyanyian jangkrik yang gelap dan sepi. Tentu sang cewek berbikini tadi sudah pulang, pertentangan keduanya akhirnya berbuah adu kesaktian dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Saat keduanya sadar atas kelebihan masing-masing, bekerja sama adalah hal yang paling indah dengan tanpa mencari kelemahan orang lain dan menerima kekurangan diri. Keadaan saling menguntungkan datang dan terbesit dikepala mereka, siang menyajikan pelangi yang indah begitu pula dunia malam yang gemerlap di Las Vegas dengan berjuta lampu kelap-kelip dan kembang api. Tidak sampai membuat penonton terbahak-bahak memang, namun setidaknya ide filmnya sangat kreatif dan bernilai seni tingkat tinggi. Sarat makna meski hanya berdurasi kurang dari 10 menit, efektif dan tidak mengurangi pesan yang ingin dikumandangkan. Pixar tau kapan kita akan terhibur dengan sajiannya dan kapan waktunya untuk mengaktualisasikan diri mengasah jiwa sosial kita, Pixar itu idealis namun masih mampu menghibur kita. Jadi tidak sabar untuk menunggu short film lainnya beberapa waktu mendatang.

“The Radio Broadcast in Day and Night is taken from atalk given Dr. Wayne Dyer, a motivational speaker and author. director Teddy Newton remembered hearing on recording his mother played when he was young, and he decided to incorporate one of the recordings into the films”-Behind The Scene

REVIEW FILM TOY STORY 3 : THE GREAT ESCAPE, EXECELENTE..

24 Juni 2010 Tinggalkan komentar

“you’ve got a friend in me”-Randy Newman

*****

Buzz Lightyear kembali ke layar lebar setelah sepuluh tahun, penantian panjang dan melelahkan namun datang disaat yang tepat, terlalu banyak yang merindukan kisah mainan ini. Ekspektasi besar berada dibalik perkiraan semua benak calon penonton tentang bagaimana Woody akan dikisahkan dan fase kedewasaan Andy yang segera menuju ke jenjang kuliah, Lee Unkrich jelas bukan orang sembarangan, dia menjadi Co Director untuk 2 film Toy Story, Monster. Inc, dan Finding Nemo. Proyek ini sangat prestisius dan bernilai ratusan juta dollar, bukan pekerjaan main-main meski berkisah tentang mainan. Kita semua mencintai Buzz Lightyear, Woody, Jessie, Mr. Potato Head, Rex, Bulleyes, dan lainnya, bagi mereka yang lahir pertengahan hingga menuju akhir tahun 80’an, kami pun berada disana. Saat Toy Story dirilis tahun 1995 kita belum berumur sepuluh tahun waktu itu, menyenangkan rasanya memory itu kembali datang.

Pixar membawa pioner film tiga dimensi pertama kelayar lebar lewat Toy Story berkembang hingga Up tahun lalu, ada kesan tersendiri saat kita beranjak dewasa dengan Pixar terlebih bagi kalian yang saat ini hendak kuliah dan memang mengikuti seri Toy Story sejak awal rilis. Kita akan melihat kebelakang dan terdiam melihat satu kardus dibawah tempat tidur atau tempat lain yang berisi mainan dan sudah lama tidak kita mainkan, tersenyum karena kita pernah melewati era keemasan bersama mereka. Bernostalgia dengan memory masa lalu tentang mainan dan boneka, sebuah benda mati yang ditafsirkan hidup sesuai daya intepretasi dan kekuatan dalam beriimajinasi tentang dunia tanpa sekat yang menyenangkan.  Berubah megah menjadi suatu hal yang istimewa yang hinggap nan melekat saat kita kecil dan menjadi sebuah kenangan manis sebagai teman bermain, berapa detik durasi dalam hidup yang kalian sediakan untuk mereka kala itu? kita mungkin tidak menghitungnya. Yang jelas saya pernah mengalami masa-masa itu dan kalian pun demikian, yang kita tau bahwa mereka hidup ketika kita sedang berimajinasi, memainkan peran mereka. Namun yang tidak kita tau disanalah ternyata mereka benar-benar hidup, berinteraksi saat kita tidak ada, bercengkrama dalam dunianya, petualangan seru lintas batas, dan perasaan mereka terpengaruh saat kita pun mulai melupakannya, menyenangkan mengetahui semua itu ada di Toy Story trilogy.

“kami berusaha membuat film yang kami sendiri ingin lihat, orang tak ingin dikecewakan film ini. aku juga tak ingin dikecewakan film ini! ini akan jadi film yang lucu dan memuaskan.“-Lee Unkrich.

“bukan tentang bagaimana kau membuatnya, tapi apa yang kau lakukan dengan itu”-John Lasetter.

Waktu akan terus bergulir dan “Andy’s going to college, can you believe it?” siapapun kalian yang beranjak dewasa dengan film ini yang saat ini segera dan atau sedang mengenyam bangku kuliah akan segera diingatkan, “what are you going to do with these old toys?” kita meninggalkan rumah dan mulai tinggal di asrama atau kosn, orang tua kita akan membereskan kamar kita, memindah dan membuang yang tidak perlu. Pilihan harus segera dicetuskan, membawa mainan ke asrama, menaruhnya diloteng/gudang, membuang ke tempat sampah, atau mewariskannya kepada ponakan berumur 5 tahun? kita menghadapi sebuah sejarah disini, berpisah dengan orang tua yang telah membesarkan kita sejak kecil. Bukan peristiwa yang harus disesali, mungkin berat untuk melepasnya namun disatu titik semua itu akan selalu terjadi, dan itulah jalan terbaik. Sebuah premis manis dan indah dari penulis naskah Michael Arndt, John Lasetter, Andrew Stanton, dan Lee Unkrich sendiri,  Carl pernah merasakan hal itu di film Up begitu pula Finding Nemo, sebuah perjuangan berat yang harus dilalui dan kini Woody dkk sedang dalam ujian untuk menentukan sikap itu. Andy hanya akan membawa Woody ke kampus dan memisahkan yang lain ke sebuah loteng, sebuah tempat paling menyenangkan daripada dibuang ketempat sampah. Saat yang ditunggu-tunggu datang, dan sebuah kesalahan yang tidak diperkirakan hadir, ketika itulah sebuah petualangan terjadi. Lee Unkrich telah membuat kita sadar bahwa ada beberapa hal yang lebih penting yang berada dibalik sebuah kesalahan itu, terlebih saat sebenarnya Andy marah ketika mainannya hilang dan bukan loteng yang mereka dapati melainkan sebuah taman kanak-kanak-Sunny Side dengan segudang masalah dibalik wajah ceria itu, hanya ada satu pilihan selanjutnya. run definitely, run!

“what are you going to do with these old toys?”-Andy’s Mom

“Andy’s going to college, can you believe it?”-Andy’s Mom

Menyaksikan kisah ini membuat saya pribadi sangat terhibur, sangat disayangkan porsi 3D didalamnya terasa kurang menonjol hanya kedalamannya saja yang terlihat lebih. Hal ini seperti yang sudah dijelaskan oleh John Lasetter sendiri bahwa “bukan tentang bagaimana kau membuatnya, tapi apa yang kau lakukan dengan itu”. Sebagai pentolan Pixar, John sangat menyukai 3D meski bukan itu yang dia fokuskan melainkan kedalaman cerita dan pengembangan karakter yang menjadi perhatian serius. Aksi Buzz dan Woody bisa jadi sangat lucu, tapi mereka juga bukan saja menjadi tontonan anak berumur 5-10 tahun, sebuah strategi umum yang diterapkan oleh Pixar. Kita dan orang tua tidak mungkin melepas bocah SD sendirian nonton film ini, akan ada pendamping saat nonton dan itu sudah pasti. Toy Story 3 kini memiliki hidup yang lebih berwarna, warna warni menghias lebih pekat saat berada di Sunny Side, taman kanak-kanak. Ada banyak pula mainan baru di Sunny Side, kita bisa melihat sebagai ciri khas film sekuel dengan penambahan banyak konflik dan karakter baru. Peter Parker menghadapi 3 penjahat difilm ketiga, begitu pula Jack Sparrow di Pirates Of The Caribbean At’s World End. Semua pemain lama reuni kembali disini kecuali Jim Varney untuk suara karakter Slinky, Pixar kali ini juga mengundang beberapa aktor senior, tidak seperti biasanya. Micahel Keaton, Jodi Benson, Timothy Dalton, Whoopi Goldberg, Richard Kind, dan Jack Angel. Hebatnya, mereka semua bermain dengan apik meski hanya sebatas nyumbang suara saja. Bisa dibilang kali ini Pixar kurang menyelipkan karakter atau pun benda dari film sebelumnya, fans Pixar sudah terkondisikan sejak awal tentang antisipasi kejutan ini. Bukan tidak ada, melainkan memang tidak secara gamblang adanya. Kita melihat banyak kesamaan dengan film sebelumnya yang mau-tidak -mau mengingatkan kita akan beberapa film Pixar sebelumnya, apa saja? semua, ada banyak film Pixar di Toy Story 3.

Berangkat dari ekspektasi diatas, meninggalkan bajakan adalah perbuatan bijak apalagi setelah lama tidak mengunjungi bioskop untuk ritual nonton film. Pixar tidak pernah mengecewakan saya, banyak hal dan itu telah terlewati serta dibayar dengan rasa puas. 1,5 jam perjalanan dari rumah demi tayangan 3D, membayar selembar tiket berharga 25 ribu, dan keluar studio membawa haru sekaligus senang. Kita diajak bermain roallcoaster disini, temperatur cerita berbeda genre. Daya khayal Andy diawal adegan sangat mendebarkan, seketika itu kita disambut oleh warna-warni pelangi di Sunny Side. Bila urat sudah mulai kendor dan adrenaline menurun, bersiaplah untuk tertawa saat Mr. Potato Head berubah bentuk disalah satu scene, atau saat Ken ingin menunjukkan daya tariknya dengan memamerkan ragam busana koleksinya kepada Barbie. Adakah yang tidak tertawa saat Buzz Lightyear diset ke mode bahasa Spanyol dan kembali keasal muasal sebagai polisi luar angkasa dengan misi menumpas Zurg ?? Melindungi Jessie dari pihak jahat serta rayuan mautnya dijamin akan membuat anda tertawa lepas dibioskop, sangat memorable. Menjelang ending saat semua harapan sepertinya berjalan dengan baik, 20 menit terakhir kita sejenak bernafas. Berfikir serta merenungkan tentang apa yang kita perjuangkan, tentang apa yang kita pertahankan. Kembali keawal, berpisah menjadi fokus cerita. Bukan perpisahan yang menyedihkan meski bagi penggemar hal itu terasa sangat mengharukan, jangan membayangkan hal sedih disini karena itulah jalan terbaik. Sebuah film masterpiece dan sangat direkomendasikan untuk disaksikan langsung dibioskop, nonton film Toy Story berarti melihat perjuangan Pixar selama ini. Berjuang menjadi yang terdepan, banyak cobaan tentunya. Sepuluh tahun kemudian dan hari ini kisah ini akan kembali menyapa anda, emosi para fans Toy Story akan lebih terikat disini. Bila kalian bertanya film terbaik 2010, saya akan bilang Toy Story 3 berada pada posisi Lima Besar disana.

OPENING CEREMONY FIFA WORLD CUP 2010, SOUTH AFRICA : LAKON VISUAL YANG MEMABUKKAN

11 Juni 2010 2 komentar
Seberapa tertarikkah anda ketika dihadapkan dengan pilihan antara sibuk mencari berita terbaru tentang video mesum antara artis “mirip” Ariel dengan artis perempuan beken lainnya, Isu krusial daerah timur tengah antara Israel vs Palestina, atau penantian empat tahun dalam pesta dunia sport bertajuk Piala Dunia? pun tertanda lewat laga pertandingan Afrika Selatan Versus Meksiko yang berakhir seri tadi, demam sepak bola sedunia sudah dimulai, gegap gempita event empat tahunan yang kini dilaksanakan di negara paling selatan di Benua Afrika tersebut berlangsung cukup meriah dan menyita perhatian masyarakat umum dan para fanatik bola khususnya. saya sih sejatinya kurang begitu mahir bermain bola apalagi fanatik sama bola, motivasi terbesar untuk nonton pergelaran ini hanya dari kecintaan saya dengan tayangan visual dan pengaruh yang ditimbulkan olehnya. makanya opening ceremony ini sepertinya menjadi hal yang sangat sayang sekali untuk dilewatkan, toh bagi saya nonton Piala Dunia juga merupakan bagian dari “nonton”, bukan?

Untuk mempersempit tulisan, kali ini saya hanya ingin memfokuskan diri pada event sepak bola yang diikuti oleh 32 negara minus keikutsertaan negara kita Indonesia yang katanya negara penggila Bola ini. benar saja, demam bola itu kini bukan saja pengistilahan lain dari sebuah pengaruh atau candu, karena kini demam yang dimaksud berarti demam yang sebenarnya alias sakit akibat budaya begadang untuk tidak melewatkan setiap pertandingan yang disiarkan langsung oleh dua stasiun televisi lokal. itu pun belum ketika menghitung pra dan pasca pertandingan dengan sedikit diskusi kecil-kecilan atas hasil yang ditorehkan dalam pertandingan tersebut. Padahal ketika kita sadar terhadap apa yang kita saksikan, dibalik itu kita telah berangsur melupakan beberapa hal yang mungkin akan pelik ketika harus kemabli mengingatnya. pergelaran yang mungkin ditonton oleh jutaan manusia di dunia ini hadir tak ubahnya seperti disaat kita melihat sebuah karya seni lukisan indah dari sang maestro atau kejutan syahwat dari keindahan tubuh wanita sensual didepan mata, memabukkan dan mengandung effect lain untuk mendorong seseorang melakukan hal yang awalnya sangat mustahil dan perlu berpikir ulang diwaktu yang berbeda, beberapa orang lainnya mungkin bahkan tidak akan mengeluh dan malah ikhlas bila pada akhrinya sakit “demam” yang menjangkiti dirinya kini sedang kambuh.

Effect lupa dan pengaruh yang memabukkan disini minimal merupakan hal mudah yang dapat kita temui saat lagak visual partai Afrika Selatan dan Meksiko ini dimulai, semua orang merasakan dan membangun rasa euforia yang sedang menggema pada saat itu. pun disaat yang bersamaan kita sadar bahwa hal yang lebih rumit pasca usai laga yang berakhir satu sama ini lebih memprihatinkan, disini kita berbicara masalah realitas sosial dan keterpurukan yang beranak-pinak. ada energi dibalik sebuah tayangan sepak bola, baik suka maupun tidak. padahal secara alur cerita dari sejak pluit ditiup oleh sang wasit hingga pertandingan usai, tidak ada yang istimewa disini, namun jangan salah. serial monoton selama sebulan penuh ini juga mengandung ending yang tidak terduga dan misterius, tentang siapa yang akan menjadi juara pada usai laga penentuan tanggal 11 Juli 2010 nanti. Dalam realitas sosial tadi, janganlah kita sebagai bangsa yang besar dengan jumlah penduduk yang tambah membeludak ini terlalu berambisi untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia entah tahun keberapa kedepan, efek lupa ini saja telah membuat kita pada akhirnya sadar bahwa banyak hal yang harus dibenahi sebelum keinginan tersebut terlontar. kita bagaikan kalah sebelum bertanding, dimana ketimpangan terjadi dimana-mana, mengonsumsi budaya luar yang jadinya malah liar dan tidak terkendali, serta konflik internal yang makin mengancam dari dalam.

Bila sudah begini, siapa yang sebenarnya menjadi senang dan merasakan berkah sesaat dari event Piala Dunia? seperti halnya tebak-tebakan sebelum pertandingan dimulai, apakah penguasa yang mulai lengah karena beban pemerintah sedikit santai. kritik dan tekanan tentang kinerja pemerintah mulai lenyap dari peredaran, masyarakat seperti sedang mengkonsumsi pil koplo gratis lewat tayangan Piala Dunia dan sekali lagi telah lupa bahwa negera yang mereka diami sedang terlilit masalah kronis yang jumlahnya ribuan dan menjadi bom waktu yang akan meledak kapan saja karena ruang-ruang politik itu sekarang sedang dingin. lupa terhadap cacat hukum dan pelanggarn hak asasi yang terjadi dimana-mana karea televisi kita mau tidak mau telah memprioritaskan hasil pertandingan dan analisis peta kekuatan kontestan dibandingkan mendiskusikan masalah diatas, kekuatan media televisi yang masih terbukti ampuh membius penonton hanyalah sinetron, film anak, dan acara musik serta reality show. pertanyaan tentang siapa yang masih peduli tentang masalah penculikan budaya oleh negara lain, kaum remaja yang semakin dicekoki fatamorgana dunia, seks bebas hingga mencakup anak SMP, konflik agama dan ajaran sesat, legalisasi tayangan porno ditelevisi saat hebohnya video mesum mirip ariel peterpan marak, perubahan iklim, dan banyak hal yang lebih serius lainnya yang mengancam kelangsungan negara dan umat manuisa khususnya. para koruptor pun tertawa sambil terus mengumpulkan pundi uang rakyat kedalam rekening pribadinya, dengan harapan seluruh atau mayoritas warga sedang dalam keadaan teler an mabuk dalam lamunan sesaat perhelatan Piala Dunia ditelevisi.

apakah pula yang mendapatkan berkah ini adalah masyarakat ? untuk wilayah yang satu ini menjadi makin unik karena kita akan berhadapan dengan budaya latah dan ikut-ikutan, pada sebuah moment pembukaan ini banyak masyarakat secara umum berbondong-bondong menyesaki sebuah cafe prestisius dan dianggap gaul yang khusus menyiarkan pertandingan sepak bola sebagai promosi dagangnya. apakah semua yang berada disana murni adalah penggila bola? segerombolan remaja cewek bersorak sorai ketika Afrika Selatan mencetak goal, segerombolan lain dimeja sebelah lagi asyik bermain dengan laptopnya, bahkan ada yang narsis dan niat nyari sensasi dengan berteriak padahal tidak ada moment spesial detik itu. sebanyak itukah penggila bola itu? itu bahkan hanya ditilik dari hal sesederhana perbedaan antara penggila bola dan yang bukan, belum lagi tentang perjudian akbar yang melingkupi setiap pertandingan dan yang semacamnya.

Atau hal ini hanyalah bagian promosi dari para pengusaha untuk menguras dompet para penggila bola asli dan para penggila bola dadakan yang muncul setiap empat tahun sekali itu? bisa jadi semuanya bersinergi disaat yang bersamaan, namun hal itu tetap kita pisahkan. menyoal pengusaha, berarti kita sedang berada dalam ranah fungsi sepak bola secara ekonomis. karena patut dicatat bahwa biaya perhelatan ini sangatlah besar dan bisa berdampak semakin buruk bila hal itu terbukti gagal dan tidak sesuai prediksi awal sepak bola sebagai pendorong laju perekonomian nasional tuan rumah penyelenggara, taruhlah hal ini sebagai pertaruhan negara untuk memetik keuntungan atau seketika dilindas truck. melihat hal tersebut mengingatkan kita akan bangkrutnya beberapa negara yang pernah menyelenggarakan turnamen atau pertandingan kelas dunia seperti Yunani dalam pesta Olimpiade misalnya, yang gagal dan bangkrut dengan meninggalkan utang yang sangat mengerikan serta berdampak krisis keuangan. kini pertaruhan tersebut berada di Afrika yang notabene negara yang tidak jauh berbeda dengan negara kita Indonesia, realitas sosial dan ekonomi berada dalam kungkungan yang sama. banyak biaya digelontorkan untuk membuat acara ini terlihat spektakuler dengan mengindahkan realitas yang menjangkiti warganya dengan sejenak melupakannya dan ikut dalam euforia semu yang sesaat, kenyataan yang timbul malah ketimpangan pada beberapa sektor penting yang telah dialokasikan untuk kepentingan 31 negara lain yang menjadi peserta, seperti kesehatan, pendidikan, pelayanan sosial, dan masalah-masalah internal lainnya. apakah akan balik modal? kita tunggu saja hasil evaluasi dari Afrika selatan selepas final pertandingan ini usai.

Lantas secara ekonomi apa pengaruhnya bagi negara ini? hal itu sangat sedikit sekali, kecuali kesenangan sesaat tadi. keuntungan terbesar untuk indonesia hanyalah kontribusi bagi pengusaha sendiri yang memperdagangkan hak siar pertandingan, cafe dan restoran yang menyiarkan pertandingan, situs sepak bola, penjual aksesoris, dan tida lupa adalah judi. untuk yang terakhir ini malah menjadi penyakit kronis yang sudah sangat susah dihilangkan, bagaimanapun ketika kita menyaksikan pertandingan kita akan dihadapkan kepada hal yang tidak pasti dengan tingkat pengaruh yang besar terutama kepada para penggila bola. mulai dari tingkat remeh seperti mentraktir teman makan malam hingga tingkat uang bernilai ratusan ribu, jutaan, dan bahkan beupa barang atau kendaraan. tidak perlu terlalu jauh menjangkau seluruh indonesia, pencitraan disebuah cafe diatas bagi saya sudah mewakili untuk mendeskripsikan betapa candu itu kini hanya berupa layar televisi gratis yang bisa didapatkan dengan mudah. lagak gegap gempita dan euforia sepak telah menggeser makna realitas keseharian menuju kesenangan sesaat, disatu sisi memang memiliki nilai tambah dari penjualan aksesoris dan lainnya, pengusaha yang memanfaatkan moment ini paling tidak minimal terus berupaya untuk mengais rejeki dari sana, disisi lain pemisahan strata masih terus terjadi disana. itulah kehebatan tayangan cinematik bernama pertandingan sepak bola dunia, buah serial terlaris tahun ini yang akan melibas serial laris dunia dan beberapa judul sinetron lokal yang sebelumnya menghantui serta menguasai pasar pertelevisian Indonesia, kiblat hidup banyak warga negara ini, pembuktian awal dari superiornya sepak bola dunia dimata masyarakat adalah mulai surutnya berita heboh video mesum artis beken indonesia beberapa hari terakhir ini mendominasi layar.

Tentang absennya tayangan langsung pembukaan piala dunia 2010 yang diisii oleh tari-tarian, pidato, dan pentas seni musik dan seni lainnya yang didatangkan dari seluruh dunia ini membuat kecewa bagi sebagian warga dan saya sebagai penikmat film dan penikmat tayangan visual, penantian selama empat tahun lamanya ini membuat sedikit berang juga, atmosfir Afrika bahkan tidak terlalu bergema ketika pertandingan perdana Afrika Selatan melawan Meksiko berlangsung dan berakhir dengan hasil seri satu sama. terlepas dari itu, kekecewaan itupun mungkin lambat laun akan hilang ditelan sorak sorai saat menyaksikan pertandingan demi pertandingan akan setia memanjakan penonton dan penggila bola hingga final bulan depan. Afrika mungkin bukan negara yang menggunakan teknologi canggih dan berada dikawasan paling prestisius didunia saat ini, setidaknya laga empat tahunan yang begitu berpengaruh didunia ini amat sangat sayang untuk dilewati mengingat kita memang tidak akan tau apa yang akan terjadi nanti. So, banyak makna dari sudut pandang berbeda dari sebuah tayangan visual cinematik yang kita tonton baik disadari maupun tidak. ada beberapa hal yang berdampak buruk, pun juga tidak ktinggalan mampu mengangkat derajat dan meningkatkan surplus perekonomian kepada negara penyelenggara pun begitu pula kepada negara lain yang bahkan tidak ikut bermain didalamnya seperti negara kita ini. Well, Selamat menonton dan mari kita buktikan kehebatan team pujaan serta mari (juga) kita uji kehebatan Deddy Corbuser sesaat sebelum pertandingan peradan tadi dimulai yang akan mengumumkan siapa pemenang Piala Dunia 2010 ini..

Welcome To FIFA World Cup 2010, South Africa 11 Juni 2010 – 11 Juli 2010